Senin, 21 Juni 2021

FILSAFAT, SCIENCE, TEKNOLOGI TERAPAN

 FILSAFAT, SCIENCE, TEKNOLOGI TERAPAN

Dalam segala sesuatu, setiap ilmu,  harus ada aspek filsafat, aspek science, aspek teknologi terapan... tanpa melibatkan itu semua akan timpang dan tidak lengkap...

Filsafat/Filosofi, mencari hakekat dari segala sesuatu ...menanyakan Why, How.... sehingga muncul macam-macam filsafat.... filsafat ilmu, filsafat manusia, filsafat alam semesta ( kosmologi ), filsafat ketuhanan ( teologi ), filsafat Islam, filsafat asal usul ( epistemologi ), filsafat hukum, filsafat ekonomi, filsafat politik, filsafat kebudayaan...dsb... dsb...pokoknya aspek pikiran maksimal untuk mencari hakekat..."pengelamunan/perenungan/ berfikir mengawang-awang...".... meskipun berfikir bebas, tetapi berfilosofi/ berfilsafat yg benar, seharusnya sebelumnya pinjakannya harus melewati science dulu...orang berfilsafat jaman sekarang, tidak bisa seperti jamannya Plato atau Aristoteles dulu...karena sekarang sudah muncul berbagai ilmu & teknologi terapan..

Filsafat/filodofi, ibarat nya "kepala manusia"

Science/ Ilmu pengetahuan, ... ibaratnya "tangan & badan" manusia....disini yg ditanyakan adalah... What, Where, When, Who, How many dsb...dsb...biasanya berisi ketentuan, kaidah, hukum, axioma, yg telah dibuktikan atau diverifikasi dgn statistik bila bila hipotesisnya probabilistik dan/atau telah divalidasi bila hipotesisnya deterministik....tanpa validasi dan/atau verifikasi, belum bisa disebut ilmu pengetahuan...hanya bersifat pengetahuan saja.... sehingga misalnya harus dibedakan antara ilmu Geologi yg bersifat science limiah, dgn pengetahuan geologi yg bersifat umum untuk orang awam...

Teknologi Terapan, dapat diibaratkan "kaki" manusia.... merupakan praktek penerapan dari ilmu pengetahuan/ Science yg telah verified & validated telah teruji secara deskriptif dan genetik baik secara statistik untuk yg bersifat populasi, maupun yg deterministik yg berupa sistems....Orang yg menerapkan teknologi terapan, sifatnya pragmatis & dapat diaplikasikan...Yg ditanyakan "How can I do it ?" .... bukan How & Why...

Sehingga dlm paradigma Modernisme, yg menganut pemikiran post-positivisme.... Science & Teknologi Terapan, yg lebih diutamakan dalam dunia modern...bukan filsafat ilmu yg masih "mengawang-awang" bersifat hipotesa yg belum dibuktikan secara ilmiah..belum verified & validated

Pandangan atau paradigma aliran Post-modernisme lain lagi, karena semuanya dianggap nisbi, serba relatif tidak nyata...narasi kecil, menolak narasi besar... maka filsafat idealisme tidak di utamakan..  yg diutamakan misalnya filsafat eksistensialisme.... sebetulnya paradigma post-modernisme langsung maupun tak langsung awal munculnya dlm dunia lukis... lukisan abstrak menggantikan lukisan naturalis & realis...dlm dunia seni lukis muncul lukisan abstrak & ekspresionisme.... menolak lukisan naturalisme & realisme, tetapi masih menerima naturalisme unfinishing..itu yg bernilai tinggi...apa sebabnya ? Karena seni lukis naturalis & realis tidak bisa menyaingi kemajuan teknologi fotografi dalam memunculkan objek yg betul-betul naturalis & realistik... sehingga muncul seni lukis abstrak ekspresionis....dari sini sebenarnya munculnya paradigma post-modernisme tsb...

Namun demikian, menurut paradigma aliran Neo-Modernisme, (yg merupakan anti-thesis dari Post-modernisme), mengedepankan idealisme sekaligus pragmatisme..narasi besar, juga narasi kecil...ada yg mutlak ada pula yang nisbi...artinya apa ? Artinya seseorang harus bisa menguasai aspek teknologi terapan, aspek Science , dan filosofinya sekaliigus... tentunya didasarkan pada paradigma Neo-Modernisme tsb ( bukan Post-modernisme lagi )... Jadi dia harus bisa menjawab secara deduktif dan/atau induktif, sekaligus sintesis ( "resultante" dari dua hal )....Bisa menjawab : "How can I do that sd How & Why, dari segala sesuatu...

Ibarat nya manusia, tidak boleh hanya "kepala" saja, harus sampai "badan, tangan" dan "kaki"..."kepala" (filsafat) tanpa "badan, tangan & kaki" akan "lumpuh"... sebaliknya "kaki" (teknologi terapan), "badan & tangan" ( science ) tanpa "kepala" ( filsafatnya ) akan "buta"...

Jadi ??

Belajar  Ilmu apa saja, seharusnya tidak hanya menguasai dasar2 nya saja, dan seharusnya menguasai juga aspek teknologi terapan, aspek science, sampai tataran filosofis/ hakekat dari kepakaran dari spesialisasi ilmunya...... 

Namun sebagian besar, menurut pak Yan Sopa (LIPI), yg saya ingat pada intinya : "... ilmuwan jangan sampai hanya bersifat generalis/ umum maksimalis saja dlm ilmunya, ....belum Ada peningkatan setelah mencapai gelar tertinggi dlm vak ilmunya.... seharusnya mencapai spesialis maksimalis...bukan hanya generalis maksimalis...dsb... dsb.."

Demikian juga kalau kita belajar agama ( misalnya Islam ), jangan hanya sampai syariat melalui tarikatnya alirannya pengajiannya saja,... pinter ngaji... seharusnya menafsirkan hakekat ayat2 dlm surat kitab suci Al-Qur'an, ...ya harus ditingkatkan lagi...jangan... kita diberi ALLAH otak untuk berpikir untuk menafsirkan makna terdalam ayat2 tersebut..... seharusnya  sampai hakekat, bahkan makrifat kalau mampu..

Mohon maaf ..Sebetulnya ini nasehat untuk saya sendiri, yg belum sampai pada level hakekat, baik dalam ilmu pengetahuan, maupun dlm pemahaman Islam..😒😭

Mohon maaf apabila tidak berkenan ..πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

Tidak ada komentar:

Posting Komentar