Jumat, 31 Maret 2017
FOTOGRAMETRI
FOTOGRAMETRI
FOTOGRAMETRI = PHOTOGRAMMETRY
PHOTOGRAM = REKAMAN FOTO
METRY = MENGUKUR
PHOTOGRAMMETRY = MENGUKUR DENGAN MENGGUNAKAN FOTOGRAM
MENDAPATKAN UKURAN MELALUI FOTO UDARA
FOTOGRAMETRI
METRIK FOTOGRAMETRI ( METRIC PHOTOGRAMMETRY ) = MENYADAP UKURAN – UKURAN DARI FOTO UDARA
- PENENTUAN GEOMETRI DAN POSISI OBYEK MELALUI PENGUKURAN/PENGAMATAN: JARAK, SUDUT, LUAS DAN VOLUME DARI PROSES FOTOGRAMETRI
- MELIPUTI PENGUKURAN SECARA TEPAT SERTA PERHITUNGAN UNTUK MENENTUKAN UKURAN DAN BENTUK OBYEK
- UNTUK PENYIAPAN PEMBUATAN PETA-PETA PLANIMETRY DAN TOPOGRAFI DENGAN BANTUAN FOTO UDARA
-
-
FOTOGRAMTRI INTERPRETATIF:
- PENGOLAHAN CITRA FOTOGRAFIK MAUPUN NON FOTOGRAFIK ( radar, cisat ) GUNA PEMBENTUKAN BASIS DATA BAGI KEPERLUAN REKAYASA TERTENTU
- MELIPUTI PENGENALAN DAN PENENTUAN IDENTITAS OBYEK
-
FOTOGRAM: FOTO UDARA YANG DILENGKAPI KETERANGAN – KETERANGAN UNTUK MEMBANTU MENGETAHUI KETERANGAN-KETERANGAN PADA FOTO UDARA.
YANG DAPAT DIUKUR PADA FOTOGRAM: ARAH/SUDUT, BEDA TINGGI, VOLUME, JARAK, SEKALA, LUAS, LERENG
UNTUK KEPENTINGAN FOTOGRAMETRI FOTO UDARA DILENGKAPI DENGAN KETERANGAN-KETERANGAN TEPI YANG TERDIRI ATAS PETUNJUK WAKTU, PANJANG FOKUS KAMERA DAN KEDUDUKAN PESAWAT DALAM ARTI POSISI HORISONTAL ATAU MIRING SERTA TANDA PETUNJUK KETINGGIAN PESAWAT PADA SAAT PEMOTRETAN
SEJARAH PERKEMBANGAN TEHNOLOGI FOTOGRAMETRI
FOTOGRAMETRI BERKEMBANG DARI NEGARA PERANCIS DGN DITEMUKANNYA PEMOTRETAN UDARA YANG PD AWALNYA DILAKUKAN DARI LAYANG-LAYANG & BALON UDARA
ARAGO ( AHLI GEODESI ): MEMPERAGAKAN PEMANFAATAN FOTO UDARA UNTUK SURVEI TOPOGRAFI
1859 DIKEMBANGKAN PEMETAAN TOPOGRAFI PERTAMA OLEH AIME LAUSSEDAT ( SEORANG KOLONEL DR KORPS AHLI TEHNIK ANGKATAN DARAT PERANCIS) DAN BERHASIL DGN BAIK
LAUSSEDAT (BPK FOTOGRAMETRI ) DIPANDANG TELAH BERHASIL MEMETAKAN DAERAH BERTOPOGRAFI KASAR DI PEG. KANADA BARAT.
1886 KAPTEN DEFILLE ( PIMPINAN SURVEYOR KANADA, AMERIKA ) MEMPELOPORI PEKERJAAN PEMETAAN SECARA FOTOGRAMETRIS
1894 DINAS SURVEI PANTAI DAN GEODESI AS MEMANFAATKAN FOTOGRAMETRI UNTUK PEMETAAN DAERAH PERBATASAN KANADA DAN ALASKA
1902 WRIGHT BROTHERS PENEMU PESAWAT UDARA FOTOGRAMETRI SEMAKIN BERKEMBANG PESAT
PD I: FU UTK PENGINTAIAN MEDAN LAWAN
ANTARA PDI & PD II PEMETAAN DGN FOTOGRAMETRI DILAKUKAN SECARA BESAR-BESARAN, BAIK OLEH SWASTA MAUPUN PEM DI AS & EROPA
PERALATAN & TEHNIK DLM FOTOGRAMETRI SEMAKIN BERKEMBANG
FU YG TADINYA UTK PENGINTAIAN MEDAN LAWAN BERKEMBANG UTK KEPENTINGAN YANG LEBIH LUAS: PEMETAAN TOPOGRAFI, PEMETAAN PERSIL
PERKEMBANGAN SELANJUTNYA PEMOTRETAN UDARA DIPANDU OLEH PEMAKAIAN SARANA NAVIGASI GPS ( PEMOTRETAN UDARA KINEMATIKA (JPS DIPADUKAN DGN KAMERA UDR DLM SATU MISI PEMOTRETAN )
SASARAN PENGINDERAAN JAUH DALAM LINGKUP KADASTRAL
PEMANFAATAN TEHNIK PJ DI BPN PD AWALNYA UTK PEMETAAN TGT
ANTARA ’80-.90 CISAT YG DIHASILKAN ADALAH SPOT ATAU LANDSAT YG BERESOLUSI RENDAH
PERKEMBANGAN TEHNIK INDRAJA SELANJUTNTA MIS: IKONOS, CUICKBIRD DIMUNGKINKAN UTK PEMETAAN KADASTRAL
BBRP PERTIMB PENGGUNAAN CITRA SATELIT UTK PEMETAAN KADASTRAL:
-RESOLUSI SPASIAL CISAT: PETA DSR PENDAFTARAN 1:10000, 1:2500, 1:1000; UTK BID-BID YG KECIL 1:500, 1:250
-WILAYAH CAKUPAN LUAS
-RELATIF MURAH:
IKONOS: USD20/Km2 MINIMUM ORDER 100 Km2
QUICKBIRD USD22/Km2 MINIMUM ORDER 64 Km2
PENGGUNAAN CISAT UTK LINGKUP KADASTRAL PERLU MEMPERHATIKAN
-KESIAPAN SDM
-HARDWARE & SOFTWARE
-STANDARISASI PRODUK AGAR TERDPT KESERAGAMAN KUALITAS PROSES & PRODUK
TIGA TITIK PENTING DALAM FOTOGRAMETRI
TITIK UTAMA ( PRINSIPAL ):
TITIK PADA FU HASIL PERPOTONGAN GARIS PROYEKSI ORTOGONAL YANG MELALUI TITIK PERSPEKTIF
TITIK TEMBUS SUMBU KAMERA PADA FOTO UDARA DENGAN ARAH SUMBU KAMERA TEGAK LURUS TERHADAP DAERAH YANG DIPOTRET YANG DIANGGAP SEBAGAI BIDANG DATAR.
TITIK PRINSIPAL MERUPAKAN PUSAT GEOMETRI FOTO UDARA
TITIK NADIR
TITIK YANG TERLETAK TEGAK LURUS DIBAWAH PUSAT KAMERA PADA SAAT PEMOTRETAN
TITIK POTONG GARIS VERTIKAL MELALUI TITIK PERSPEKTIF DAN MEMOTONG BIDANG FILM
PENYIMPANGAN TOPOGRAFI BERSIFAT RADIAL TERHADAP TITIK NADIR
ISOCENTER:
TITIK POTONG GARIS BISEKTRIS ANTARA GARIS PROYEKSI ORTOGONAL DAN GARIS TEGAK LURUS YANG MEMBENTUK TITIK NADIR
TITIK PADA FOTO UDARA YANG TERLETAK DITENGAH GARIS ANTARA TITIK PRINSIPAL DAN TITIK NADIR
PERGESERAN LETAK OLEH KECONDONGAN KAMERA BERSIFAT RADIAL TERHADAP ISOCENTER
Foto udara: rekaman sebagian permukaan bumi yang diambil dr kamera udara yg dipasang antara lain pd pswt udara
Foto terestrial: rekaman sebagian permk bumi diambil dr kamera yang berada di permukaan bumi
DATA DALAM FOTOGRAMETRI
DATA METRIK: BERSIFAT KUANTITATIF, DITUNJUKKAN DGN NILAI ANGKA HASIL PENGUKURAN DR FU MIS JARAK, SUDUT DAN DPT DIUJUDKAN DLM BENTUK PETA
DATA NON METRIK:BERSIFAT KUALITATIF, MRPKN MUTU/PERBANDINGAN UNSUR OBYEK PD FU, SBG PENUNJANG PEMBUATAN PETA
OBYEK YG TEREKAM PD FU MELIPUTI
-OBYEK ALAMI: GUNUNG, LEMBAH, SUNGAI, RAWA, LAUT
-OBYEK BUATAN: BANGUNAN, JEMBATAN, REL KERETA API, PERKEBUNAN, PEMUKIMAN TRANSM
PADA SETIAP LEMBAR FU DILENGKAPI TANDA-TANDA TEPI:
-Nama daerah yg dipotret
-Leveling ( nivo kotak )
-tanggal
-Jam
-Altimeter
-Fokus ( jenis lensa )
-No jalur terbang
-No foto
KLASIFIKASI FOTO UDARA BERDASAR SUMBU KAMERA
- Foto udara tegak
agak condong
- Foto udara condong
sangat condong
Pada fu tegak obyek berbentuk bjr sangkar tetap tergambar sbg bjr sangkar
Pada fu agak condong obyek berbentuk bjr sangkar menjadi trapesium
Pada fu sangat condong bentuk bjr sangkar menjadi trapesium dan tampak cakrawalanya
BERDASAR PANJANG GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK ( JENDELA ATMOSFER ):
FU ultraviolet
FU orokromatik
FU pankromatik
FU inframerah asli
FU inframerah modifikasi
FU ultraviolet: 0,29 – 0,4 µm
FU orokromatik: sptr tampak pd sal biru hgg sbgn sal hijau (0,4 – 0,56 µm)
FU pankromatik: 0,4 – 0,7 µm
FU im asli: 0,7 – 0,9 µm & 1,2 µm bila digunakan film im khusus
FU im modifikasi: sptr im dekat, sbgn sal hijau dan sal merah
KLASIFIKASI FU BERDASAR SEKALA
Sekala besar ≥ 1:10000 kamera standart ( panj fokus 152 mm ), tinggi pswt 1520 m
Sekala sedang: 1:10000 s/d 1:50000 kamera standart, tinggi pswt 1520 m hingga 7600 m
Sekala kecil ( < 1:50000 ) kamera standart, tinggi pswt > 7600 m
KLASIFIKASI FU BERDASAR JENIS KAMERA
FU: Kamera Tunggal
FU jamak: multikamera / kmr multilensa
-FU dibuat dgn 4 kmr / 1 kmr berlensa 4
-FU dibuat dgn saluran ganda
-FU dibuat dgn 1 kmr vertikal ditengah & 4/8 kmr condong dibagian tepi
SKALA FOTO UDARA
Sekala FU: perbandingan jarak pada FU dengan jarak di permukaan bumi
Penentuan sekala:
-S = f/H
-S = df/dl
-S = ( df/dp)( Sp)
Kamis, 30 Maret 2017
KLASIFIKASI IKLIM
Klasifikasi Menurut Koppen
A Iklim hujan tropik, suhu bulan terdingain >18ºC
B Iklim kering, evaporasi > presipitasi
C Iklim sedang, suhu bulan terdingin berkisar -3ºC sampai 18ºC dan suhu bulan terpanas >10 ºC.
D Iklim dingin, suhu bulan terdingin <-3ºC dan suhu bulan terpanas >10-3ºC.
E Iklim Kutub
Gambar. Klasifikasi Iklim A menurut Koppen
Klasifikasi Schmit-Fergusson
Penentuan tipe iklimnya mempergunakan nilai Q yaitu:
DARI PERHITUNGAN NILAI Q TSB & DG MENGGUNAKAN SEGI 3
SCHMIDTH & FERGUSON MK DIDPTKAN 8 TIPE IKLIM DR A – H SBB :
keunggulan
1.Cocok diterapkan di indonesia
2.Cocok utk pengembangan sektor perkebunan, hortikultura dan kehutanan
3.Cocok sbg alat penelitia tanah di daerah ropik
4.Ananlisis datanya simpel
Klasifikasi Iklim Berdasar Oldeman
Oldeman telah membuat sistem baru dalam klasifikasi iklim yang dihubungkan dengan pertanian menggunakan unsur iklim hujan. Klasifikasi menurut Oldeman tersebut sering disebut dengan zone agroklimat.
Bulan Basah (BB) : adalah bulan dengan rata-rata curah hujan > 200 mm.
Bulan Lembab (BL) : adalah bulan dengan rata-rata curah hujan 100 – 200 mm
Bulan Kering (BK) : adalah bulan dengan rata-rata curah hujan < 100 mm
Berikut pembagian tipe iklim utama yang terdiri dari 5 tipe:
Zone A : masa basah > 9
Zone B : masa basah 7 – 9
Zone C : masa basah 5 – 6
Zone D : masa basah 3 – 4
Zone E : masa basah < 3
Pengembangan klasifikasi Oldeman
Penjabaran tiap-tiap tipe agroklimat kaitanya dengan pertanian tanaman pangan sebagai berikut:
Segi tiga Oldeman
KLASIFIKASI IKLIM IRRI
Klasifikasi iklim kelompok kerja IRRI juga dirancang untuk pemakaian dalam bidang pertanian terutama budidaya tanaman padi. Kriteria bulan basah dan bulan kering yang digunakan sama dengan yang digunakan Oldeman .
Wilayah pada zone I dapat ditanami sepanjang tahun. Berbagai kombinasi pola tanam ganda mungkin dikembangkan di zone II. Pada zone III mungkin dapat ditanami dua kali setahun, sedangkan pada wilayah Zone IV hanya dapat ditanami jika tersedia prasarana irigasi untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
PENJABARAN IRRI
Pranata Mangsa
Selama ribuan tahun menghafalkan pola musim, iklim dan fenomena alam lainnya, akhirnya nenek moyang kita membuat kalender tahunan bukan berdasarkan kalender Syamsiah (Masehi) atau kalender Komariah (Hijrah/lslam) tetapi berdasarkan kejadian-kejadian alam yaitu seperti musim penghujan, kemarau, musim berbunga, dan letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surutnya air laut
1855 M: bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Pakuowono IV atau penggunaannya ditetapkan secara resmi (penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam)
Mangsa ke 1 “kasa”: 22 Juni - 2 Agustus
telur serangga menetas;
kerbau, sapi, kuda malas bekerja; ikan masuk liang
daun gugur pada pohon tertentu
pohon berbunga: jambu air, jambu monyet, durian, kedondong, nangka, rambutan, manggis, cempedak
pohon berbuah: asam, buah nona, jeruk keprok, nanas
tanah retak kurang air
Mangsa ke 2 “karo” : 2 - 25 Agustus
telur ular menetas
pohon mulai berdaun kembali; biji berkecambah
pohon berbunga: jambu air, jambu monyet, durian, kedondong, nangka, rambutan, manggis, cempedak, lengkeng, salak
pohon berbuah: asam, buah nona, jeruk keprok, jeruk siam, sawo, anggur
palawija menunjukkan kekurangan air
Mangsa ke 3 “katiga” : 25 Agustus - 18 September
daun pepohonan lebat; palawija panen
bambu, gadung, temu, kunyit semi & bertunas
pohon berbunga: asam, rambutan, salak, leci, manggis
pohon berbuah: asam, buah nona, anggur, cempedak
Mangsa ke 4 “kapat” : 18 September - 13 Oktober
burung pipit, manyar membuat sarang
binatang kaki 4 mencari pasangan; ikan keluar dari liang
pohon kapuk panen buah
pohon berbunga: jeruk keprok, jeruk nipis, kepel, markisa, salak
pohon berbuah: anggur, duwet, mangga, nangka
Sumur kering
Mangsa ke 5 “kalima” : 13 Oktober - 9 November
hujan mulai turun
pohon asam berdaun muda; kunyit & gadung berbunga
pohon berbuah: anggur, duwet, mangga, durian, cempedak
Mangsa ke 6 “kanem” : 9 November - 22 Desember
muncul lipas air
pohon berbunga: kesemek, gandaria
buah masak: mangga, durian, dll.
Mangsa ke 7 “kapitu”: 22 Desember - 3 Februari
hujan terus menerus; banjir, badai, longsor
saat tanam padi; pohon berbunga: duku, gayam
pohon berbuah: durian, jeruk manis, dondong, lengkeng, manggis, rambutan, salak
Mangsa ke 8 “kawolu” : 3 Februari - 1 Maret
muncul tenggoret/garengpung
hujan jarang; banyak guntur
tanaman padi mulai berbuah
pohon berbunga: gayam, kepel
pohon berbuah: alpukat, jeruk nipis, dondong, lengkeng, leci, manggis, salak, wuni
Banyak ulat, banyak penyakit
Mangsa ke 9 “kasanga” : 1 - 26 Maret
tenggoret keluar di pepohonan
tanaman padi berbuah
pohon berbunga: alpukat, jeruk nipis, duku, dondong, leci, salak, wuni
10. Mongso Kasadoso,
-mulai sekitar tanggal 26 Maret selama 24 hari.
-Watak mongso ini adalah Gedong minep jroning kalbu (gedung tertutup dalam hati).
- Gejala alam yang nampak adalah burung-burung pada membuat sarang dan bertelur. Tanaman polowijo pada lahan kering.
11. Mongso Desto,
-mulai sekitar tanggal 19/20 April selama 23 hari.
-Watak mongso ini adalah Setyo sinorowedi (Intan diasah). Gejala alam yang nampak adalah telur burung mulai menetas dan pada menyuapi anaknya.
12. Mongso Sodo atau Sabdo,
-mulai sekitar 12/13 Mei selama 41 hari.
-Watak mongso ini adalah Tirto sah saking sasono (air lenyap dari tempatnya). Gejala alam yang nampak adalah hujan habis, mulai kemarau. Pada pagi hari terasa dingin dan misim petani menumpuk (menyimpan) jerami.
A Iklim hujan tropik, suhu bulan terdingain >18ºC
B Iklim kering, evaporasi > presipitasi
C Iklim sedang, suhu bulan terdingin berkisar -3ºC sampai 18ºC dan suhu bulan terpanas >10 ºC.
D Iklim dingin, suhu bulan terdingin <-3ºC dan suhu bulan terpanas >10-3ºC.
E Iklim Kutub
Gambar. Klasifikasi Iklim A menurut Koppen
Klasifikasi Schmit-Fergusson
Penentuan tipe iklimnya mempergunakan nilai Q yaitu:
DARI PERHITUNGAN NILAI Q TSB & DG MENGGUNAKAN SEGI 3
SCHMIDTH & FERGUSON MK DIDPTKAN 8 TIPE IKLIM DR A – H SBB :
keunggulan
1.Cocok diterapkan di indonesia
2.Cocok utk pengembangan sektor perkebunan, hortikultura dan kehutanan
3.Cocok sbg alat penelitia tanah di daerah ropik
4.Ananlisis datanya simpel
Klasifikasi Iklim Berdasar Oldeman
Oldeman telah membuat sistem baru dalam klasifikasi iklim yang dihubungkan dengan pertanian menggunakan unsur iklim hujan. Klasifikasi menurut Oldeman tersebut sering disebut dengan zone agroklimat.
Bulan Basah (BB) : adalah bulan dengan rata-rata curah hujan > 200 mm.
Bulan Lembab (BL) : adalah bulan dengan rata-rata curah hujan 100 – 200 mm
Bulan Kering (BK) : adalah bulan dengan rata-rata curah hujan < 100 mm
Berikut pembagian tipe iklim utama yang terdiri dari 5 tipe:
Zone A : masa basah > 9
Zone B : masa basah 7 – 9
Zone C : masa basah 5 – 6
Zone D : masa basah 3 – 4
Zone E : masa basah < 3
Pengembangan klasifikasi Oldeman
Penjabaran tiap-tiap tipe agroklimat kaitanya dengan pertanian tanaman pangan sebagai berikut:
Segi tiga Oldeman
KLASIFIKASI IKLIM IRRI
Klasifikasi iklim kelompok kerja IRRI juga dirancang untuk pemakaian dalam bidang pertanian terutama budidaya tanaman padi. Kriteria bulan basah dan bulan kering yang digunakan sama dengan yang digunakan Oldeman .
Wilayah pada zone I dapat ditanami sepanjang tahun. Berbagai kombinasi pola tanam ganda mungkin dikembangkan di zone II. Pada zone III mungkin dapat ditanami dua kali setahun, sedangkan pada wilayah Zone IV hanya dapat ditanami jika tersedia prasarana irigasi untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
PENJABARAN IRRI
Pranata Mangsa
Selama ribuan tahun menghafalkan pola musim, iklim dan fenomena alam lainnya, akhirnya nenek moyang kita membuat kalender tahunan bukan berdasarkan kalender Syamsiah (Masehi) atau kalender Komariah (Hijrah/lslam) tetapi berdasarkan kejadian-kejadian alam yaitu seperti musim penghujan, kemarau, musim berbunga, dan letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surutnya air laut
1855 M: bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Pakuowono IV atau penggunaannya ditetapkan secara resmi (penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam)
Mangsa ke 1 “kasa”: 22 Juni - 2 Agustus
telur serangga menetas;
kerbau, sapi, kuda malas bekerja; ikan masuk liang
daun gugur pada pohon tertentu
pohon berbunga: jambu air, jambu monyet, durian, kedondong, nangka, rambutan, manggis, cempedak
pohon berbuah: asam, buah nona, jeruk keprok, nanas
tanah retak kurang air
Mangsa ke 2 “karo” : 2 - 25 Agustus
telur ular menetas
pohon mulai berdaun kembali; biji berkecambah
pohon berbunga: jambu air, jambu monyet, durian, kedondong, nangka, rambutan, manggis, cempedak, lengkeng, salak
pohon berbuah: asam, buah nona, jeruk keprok, jeruk siam, sawo, anggur
palawija menunjukkan kekurangan air
Mangsa ke 3 “katiga” : 25 Agustus - 18 September
daun pepohonan lebat; palawija panen
bambu, gadung, temu, kunyit semi & bertunas
pohon berbunga: asam, rambutan, salak, leci, manggis
pohon berbuah: asam, buah nona, anggur, cempedak
Mangsa ke 4 “kapat” : 18 September - 13 Oktober
burung pipit, manyar membuat sarang
binatang kaki 4 mencari pasangan; ikan keluar dari liang
pohon kapuk panen buah
pohon berbunga: jeruk keprok, jeruk nipis, kepel, markisa, salak
pohon berbuah: anggur, duwet, mangga, nangka
Sumur kering
Mangsa ke 5 “kalima” : 13 Oktober - 9 November
hujan mulai turun
pohon asam berdaun muda; kunyit & gadung berbunga
pohon berbuah: anggur, duwet, mangga, durian, cempedak
Mangsa ke 6 “kanem” : 9 November - 22 Desember
muncul lipas air
pohon berbunga: kesemek, gandaria
buah masak: mangga, durian, dll.
Mangsa ke 7 “kapitu”: 22 Desember - 3 Februari
hujan terus menerus; banjir, badai, longsor
saat tanam padi; pohon berbunga: duku, gayam
pohon berbuah: durian, jeruk manis, dondong, lengkeng, manggis, rambutan, salak
Mangsa ke 8 “kawolu” : 3 Februari - 1 Maret
muncul tenggoret/garengpung
hujan jarang; banyak guntur
tanaman padi mulai berbuah
pohon berbunga: gayam, kepel
pohon berbuah: alpukat, jeruk nipis, dondong, lengkeng, leci, manggis, salak, wuni
Banyak ulat, banyak penyakit
Mangsa ke 9 “kasanga” : 1 - 26 Maret
tenggoret keluar di pepohonan
tanaman padi berbuah
pohon berbunga: alpukat, jeruk nipis, duku, dondong, leci, salak, wuni
10. Mongso Kasadoso,
-mulai sekitar tanggal 26 Maret selama 24 hari.
-Watak mongso ini adalah Gedong minep jroning kalbu (gedung tertutup dalam hati).
- Gejala alam yang nampak adalah burung-burung pada membuat sarang dan bertelur. Tanaman polowijo pada lahan kering.
11. Mongso Desto,
-mulai sekitar tanggal 19/20 April selama 23 hari.
-Watak mongso ini adalah Setyo sinorowedi (Intan diasah). Gejala alam yang nampak adalah telur burung mulai menetas dan pada menyuapi anaknya.
12. Mongso Sodo atau Sabdo,
-mulai sekitar 12/13 Mei selama 41 hari.
-Watak mongso ini adalah Tirto sah saking sasono (air lenyap dari tempatnya). Gejala alam yang nampak adalah hujan habis, mulai kemarau. Pada pagi hari terasa dingin dan misim petani menumpuk (menyimpan) jerami.
HUJAN BUATAN
HUJAN BUATAN
Hujan buatan adalah usaha manusia untuk meningkatkan curah hujan yang turun secara alami dengan mengubah proses fisika yang terjadi di dalam awan. Proses fisika yang dapat diubah meliputi proses tumbukan dan penggabungan (collision dan coalescense), proses pembentukan es (ice nucleation)
Jadi jelas bahwa hujan buatan sebenarnya tidak menciptakan sesuatu dari yang tidak ada. Untuk menerapkan usaha hujan buatan diperlukan tersedianya awan yang mempunyai kandungan air yang cukup, sehingga dapat terjadi hujan yang sampai ke tanah
Syarat terjadinya hujan buatan adalah sebagai berikut:
1. kelembaban relatif 70%
2. kecepatan angin < 10 knots
3. tidak ada lapisan inversi
4. dekat dengan lapangan terbang/ jarak penerbangan tidak terlalu jauh.
Perlengkapan yang dibutuhkan dalam membuat hujan buatan
1. Na Cl , sebagai inti kondensasi
2. Ca Cl2,
3. urea
4. Es kering
5. Aerosol, untuk mencegah penggumpalan
6. Pompa air
7. Pesawat penabur
ISTILAH HUJAN BUATAN (RAIN MAKING) SEBENARNYA KURANG
TEPAT….
KARENA HANYA DIMAKSUDKAN UTK MEMBANTU PROSES YG ADA
DI ATMOSFER SHG PEMBENTUKAN TETES AWAN DAN TETES
HUJAN DIPERCEPAT.
ISTILAH YG TEPAT ADL HUJAN RANGSANGAN….
KARENA KEGIATAN DIMULAI PD JAM 07.00 WIB.
PERTAMA, PD JAM 06.00 WIB POS KOMANDO MENERIMA LAPORAN
CUACA MENGENAI :
ARAH & KEC ANGIN PD SETIAP KETINGGIAN, SUHU & KELEMBN
UDARA, PERAWANAN, JENIS AWAN, DLL.
SETELAH ITU DILAKUKAN RAPAT SINGKAT SELAMA ± 30 MENIT
UTK MEMBUAT PERENCANAAN OPERASI (LOKASI, JENIS DAN
JUMLAH GARAM YG AKAN DISEBARKAN)
SELESAI RAPAT DILAKUKAN OPERASI PERTAMA :
DG MENYEBAR GARAM PD LOKASI YG TELAH
DITENTUKAN.
AWAN YG TELAH MEMASUKI TINGKAT DEWASA KMD
DIRANGSANG DG LARUTAN UREA.
PENYEMPROTAN LAR. UREA DILAKUKAN DI DLM AWAN PADA
KETINGGIAN 200 M DI ATAS DASAR AWAN.
SETELAH OPERASI SELESAI (JAM 17.00 WIB) BIASANYA
RAPAT EMBALI UTK EVALUASI KEGIATAN TSB.
GARAM DAPUR (NaCl) BERTINDAK SGB INTI KONDENSASI DAN JIKA
DITABURKAN DI DLM AWAN IA BERTINDAK SBG TETES LAR. YG
MENGGIATKAN MEKANISME BENTURAN DAN PENGGABUNGAN.
JIKA DIAMETER BUTIR GARAM 40 µm (JARI2NYA 20 µm) MAKA VOLUME
1 BUTIR GARAM ADL :
V = 4/3 π r² = 4/3 x 3,14 x ( 2.10‾²)³ mm³
= 38,4 x 10‾6 mm)³ = 32 x 10-9 cm³
MISALKAN MASA JENIS GARAM, ρ = 1,2 gram/cm³, MAKA MASSA
1 BTR GARAM :
m = V.p = 32 x 10‾9 cm3 x 1,2 gr/cm³
= 38,4 x 10‾9 gram
PESAWAT DAKOTA MAMPU MENGANGKUT 1 TON GARAM YG SETARA
DG = 26 x 1012 BUTIR GARAM, BIASANYA DISEBAR DALAM TEMPO,
t = 45 menit = 45 x 60 detik = 2.700 detik.
PEMBENTUKAN AWAN MEMERLUKAN INTI KONDENSASI DG UAP AIR
MENGKONDENSASI DAN MEMBENTUK TETES AWAN.
PARTIKEL YG HIGROSKOPIS HANYA MENANGKAP UAP AIR PADA
KELEMBAPAN NISBI TERTENTU YG DISEBUT KELEMBAPAN
NISBI KRITIS (RHc)
MIKROSTRUKTUR AWAN DIPENGARUHI OLEH KONSENTRASI
INTI KONDENSASI DAN INTI ES, DAN PERTUMBUHAN TETES ENDAPAN
DISEBABKAN OLEH KELABILAN DI DLM MIKROSTRUKTUR AWAN.
- DLM AWAN PANAS, TETES BSR TUMBUH DG MENANGKAP TETES KCL
OLEH MEKANISME BENTURAN TANGKAPAN
- JIKA ADA PARTIKEL ES DLM AWAN CAMPURAN, MK PARTIKEL ES AKAN
TUMBUH OLEH DEPOSISI DG MENGORBANKAN TETES AIR KELEWAT
DINGIN, KMD PEMBEKUAN & PENGGABUNGAN.
-DG MEMBENIH PARTIKEL HIGROSKOPIS BESAR ATAU TETES AIR
KE DLM AWAN PANAS, AGAR DPT MERANGSANG PERTUMB TETES
HUJAN OLEH MEKANISME BENTUAN-TINGKAPAN.
-DG MEMBENIH INTI ES BUATAN KE DLM AWAN DINGIN YG
KEKURANGAN INTI ES ALAM DLM KONSENTRASI SEKITAR SATU/LITER,
AGAR DPT MERANGSANG PROD ENDAPN OLEH MEKANISME KRISTAL ES.
-DG MENGINJEKSI INTI ES BUATAN DG KONSENTRASI YG TINGGI KE DLM
AWAN DINGIN AGAR DPT MENGURANGI SCR DRASTIS KONSENTRASI
TETES KELEWAT DINGIN SHG MENGHALANGI PERTUMB PARTIKEL ES
OLEH DEPOSISI DR PEMBEKUAN.
HAL INI CENDERUNG MELENYAPKAN AWAN DAN MENINDAS PERTUMB
PARTIKEL ENDAPAN.
FISIS : UJI LAPANGAN, EFEK JENIS PEMBENIHAN BUATAN PD AWAN, DAN
PENENTUAN HUB SEBAB AKIBAT ( DARI PENGINTIAN DI DLM AWAN
SAMPAI DG ENDAPAN DI PERMK TANAH ).
STATISTIK : MELAKUKAN PEMBENIHAN BUATAN DI BAWAH KONDISI
KHUSUS TTT ( MIS : SUHU PUNCAK AWAN DLM JANGKA WKT TTT,
ANGIN DR SUATU ARAH TTT ).
SECARA IDEAL, UJI COBA MODIFIKASI BUATAN SEBAIKNYA DIMULAI
DARI EVALUASI FISIS YG ADA. HASIL EVALUASI FISIS SEBAIKNYA
DIPAKAI SBG DASAR UTK MENENTUKAN PERIODE GILIRAN DLM UJI
COBA STATISTIK. SAYANGNYA, SGT SEDIKIT UJI COBA PEMBENIHAN
AWAN DILAKUKAN DG CARA INI, AKIBATNYA SBGN BSR HASIL UJI COBA
TANPA KESIMPULAN.
AWAN CUMULUS DPT DIGOLONGKAN SBG AWAN PANAS, JK SUHUNYA
DI ATAS 0º C, ATAU
DPT DIGOLONGKAN SBG AWAN DINGIN, JK AWAN INI TUMBUH JAUH
KE LAPISAN BEKU, SHG SUHU AWAN SEBGN ATAU SELRHNYA DI BWH 0º C.
PARAS 0º C DISBT PARAS BEKU ATAU PARAS PELEBURAN.
DLM AWAN PANAS, JK TETES AWAN MEMP UKURAN SERBA SAMA MK
KEC JATUH TERMINAL JG SAMA SHG KEMUNGKINAN BENTURAN DAN
TANGKAPAN SGT KCL, SHG JK TDK TERDPT PERTUMB UKURAN TETES.
SCR ALAMIAH AWAN INI SULIT ATAU TDK DPT MENGHASILKAN HUJAN.
MODIFIKASI AWAN DPT DILAKUKAN DG MENGINJEKSI TETES BESAR
KE DLM AWAN SHG MEKANISME BENTURAN-TANGKAP MENJD LBH AKTIF.
AKIBAT PROSES BENTURAN, TETES BERTAMBAH BSR DAN JATUH LBH
CEPAT YG BERARTI EFISIENSI PENGGABUNGAN BERTAMBAH BSR,
DG DMK AKAN MAKIN CEPAT TETES AWAN.
CUMULUS YG TUMBUH MENJULANG TINGGI JAUH
KE LAPISAN ATMOSFER DG SUHU DI BWH 0ºC,
DPT DIGOLONGKAN SBG AWAN DINGIN.
PD LAPISAN AWAN ANTARA 0ºC DAN - 40ºC TDK
TERJADI PENGINTIAN AIR SCR SPONTAN, KECUALI JK TETES
MENJUMPAI INTI PEMBEKU ATAU INTI ES.
AEROSOL BUATAN YG BANYAK DIPAKAI UTK MERANGSANG
HUJAN ADL PERAK IODIDA (AgI).
AKAN TETAPI DI INDO BANYAK RADIASI MATAHARI MK AgI TDK EFEKTIF
DIPAKAI SBG INTI PEMBEKU, KRN ITU SBG GANTINYA DPT DIPAKAI
ES KERING (CO² PADAT) YG DITABURKAN DR PUNCAK AWAN.
SUHU KESEIMBANGAN SUBLIMASI ES KERING ADL -78ºC, JAUH LBH
DINGIN DP SUHU PEMBEKUAN HOMOGEN AIR.
JIKA DIINJEKSI KEDLM AWAN KELEWAT DINGIN MAKA PELET
ES KERING AKAN TURUN DAN DLM LINTASANNYA ES KERING AKAN
MEMBEKUKAN TETES YG DILALUINYA.
PERCOBAAN HUJAN BUATAN DPT DILAKUKAN DG 2 CARA, YI
SECARA AKTIF DAN SECARA PASIF.
SECARA PASIF PERNAH DILAKUKAN DI DAERAH TANGKUBAN PERAHU,
YI DG MENYEMPROTKAN LAR UREA DARI MENARA DISPENSER.
MASUKNYA LAR INI KE DLM AWAN SGT TERGANTUNG PADA :
KONDISI CUACA TERUTAMA ARAH DAN KEC ANGIN, DAN
STABILITAS UDARA.
LIPUTAN AWAN RENDAN DAN KABUT MENYEBABKAN BAHAYA DI
LAPANGAN TERBANG.
KONSEP PELENYAPAN AWAN OLEH PEMBENIHAN HAMPI SAMA DG
PENINGKATAN HUJAN.
PARTIKEL BESAR ATAU INTI ES DIINJEKSIKAN UNTUK MENYAPU
TETES AWAN SHG DAERAH TSB MENJADI CERAH.
PERAK IODIDA & ES KERING TLH BERHASIL DIPAKAI UTK MENCERAHKAN
MENDUNG DAN KABUT KELEWAT DINGIN.
KABUT PANAS DI ATAS 0ºC LBH SULIT DIHILANGKAN.
Hujan buatan adalah usaha manusia untuk meningkatkan curah hujan yang turun secara alami dengan mengubah proses fisika yang terjadi di dalam awan. Proses fisika yang dapat diubah meliputi proses tumbukan dan penggabungan (collision dan coalescense), proses pembentukan es (ice nucleation)
Jadi jelas bahwa hujan buatan sebenarnya tidak menciptakan sesuatu dari yang tidak ada. Untuk menerapkan usaha hujan buatan diperlukan tersedianya awan yang mempunyai kandungan air yang cukup, sehingga dapat terjadi hujan yang sampai ke tanah
Syarat terjadinya hujan buatan adalah sebagai berikut:
1. kelembaban relatif 70%
2. kecepatan angin < 10 knots
3. tidak ada lapisan inversi
4. dekat dengan lapangan terbang/ jarak penerbangan tidak terlalu jauh.
Perlengkapan yang dibutuhkan dalam membuat hujan buatan
1. Na Cl , sebagai inti kondensasi
2. Ca Cl2,
3. urea
4. Es kering
5. Aerosol, untuk mencegah penggumpalan
6. Pompa air
7. Pesawat penabur
ISTILAH HUJAN BUATAN (RAIN MAKING) SEBENARNYA KURANG
TEPAT….
KARENA HANYA DIMAKSUDKAN UTK MEMBANTU PROSES YG ADA
DI ATMOSFER SHG PEMBENTUKAN TETES AWAN DAN TETES
HUJAN DIPERCEPAT.
ISTILAH YG TEPAT ADL HUJAN RANGSANGAN….
KARENA KEGIATAN DIMULAI PD JAM 07.00 WIB.
PERTAMA, PD JAM 06.00 WIB POS KOMANDO MENERIMA LAPORAN
CUACA MENGENAI :
ARAH & KEC ANGIN PD SETIAP KETINGGIAN, SUHU & KELEMBN
UDARA, PERAWANAN, JENIS AWAN, DLL.
SETELAH ITU DILAKUKAN RAPAT SINGKAT SELAMA ± 30 MENIT
UTK MEMBUAT PERENCANAAN OPERASI (LOKASI, JENIS DAN
JUMLAH GARAM YG AKAN DISEBARKAN)
SELESAI RAPAT DILAKUKAN OPERASI PERTAMA :
DG MENYEBAR GARAM PD LOKASI YG TELAH
DITENTUKAN.
AWAN YG TELAH MEMASUKI TINGKAT DEWASA KMD
DIRANGSANG DG LARUTAN UREA.
PENYEMPROTAN LAR. UREA DILAKUKAN DI DLM AWAN PADA
KETINGGIAN 200 M DI ATAS DASAR AWAN.
SETELAH OPERASI SELESAI (JAM 17.00 WIB) BIASANYA
RAPAT EMBALI UTK EVALUASI KEGIATAN TSB.
GARAM DAPUR (NaCl) BERTINDAK SGB INTI KONDENSASI DAN JIKA
DITABURKAN DI DLM AWAN IA BERTINDAK SBG TETES LAR. YG
MENGGIATKAN MEKANISME BENTURAN DAN PENGGABUNGAN.
JIKA DIAMETER BUTIR GARAM 40 µm (JARI2NYA 20 µm) MAKA VOLUME
1 BUTIR GARAM ADL :
V = 4/3 π r² = 4/3 x 3,14 x ( 2.10‾²)³ mm³
= 38,4 x 10‾6 mm)³ = 32 x 10-9 cm³
MISALKAN MASA JENIS GARAM, ρ = 1,2 gram/cm³, MAKA MASSA
1 BTR GARAM :
m = V.p = 32 x 10‾9 cm3 x 1,2 gr/cm³
= 38,4 x 10‾9 gram
PESAWAT DAKOTA MAMPU MENGANGKUT 1 TON GARAM YG SETARA
DG = 26 x 1012 BUTIR GARAM, BIASANYA DISEBAR DALAM TEMPO,
t = 45 menit = 45 x 60 detik = 2.700 detik.
PEMBENTUKAN AWAN MEMERLUKAN INTI KONDENSASI DG UAP AIR
MENGKONDENSASI DAN MEMBENTUK TETES AWAN.
PARTIKEL YG HIGROSKOPIS HANYA MENANGKAP UAP AIR PADA
KELEMBAPAN NISBI TERTENTU YG DISEBUT KELEMBAPAN
NISBI KRITIS (RHc)
MIKROSTRUKTUR AWAN DIPENGARUHI OLEH KONSENTRASI
INTI KONDENSASI DAN INTI ES, DAN PERTUMBUHAN TETES ENDAPAN
DISEBABKAN OLEH KELABILAN DI DLM MIKROSTRUKTUR AWAN.
- DLM AWAN PANAS, TETES BSR TUMBUH DG MENANGKAP TETES KCL
OLEH MEKANISME BENTURAN TANGKAPAN
- JIKA ADA PARTIKEL ES DLM AWAN CAMPURAN, MK PARTIKEL ES AKAN
TUMBUH OLEH DEPOSISI DG MENGORBANKAN TETES AIR KELEWAT
DINGIN, KMD PEMBEKUAN & PENGGABUNGAN.
-DG MEMBENIH PARTIKEL HIGROSKOPIS BESAR ATAU TETES AIR
KE DLM AWAN PANAS, AGAR DPT MERANGSANG PERTUMB TETES
HUJAN OLEH MEKANISME BENTUAN-TINGKAPAN.
-DG MEMBENIH INTI ES BUATAN KE DLM AWAN DINGIN YG
KEKURANGAN INTI ES ALAM DLM KONSENTRASI SEKITAR SATU/LITER,
AGAR DPT MERANGSANG PROD ENDAPN OLEH MEKANISME KRISTAL ES.
-DG MENGINJEKSI INTI ES BUATAN DG KONSENTRASI YG TINGGI KE DLM
AWAN DINGIN AGAR DPT MENGURANGI SCR DRASTIS KONSENTRASI
TETES KELEWAT DINGIN SHG MENGHALANGI PERTUMB PARTIKEL ES
OLEH DEPOSISI DR PEMBEKUAN.
HAL INI CENDERUNG MELENYAPKAN AWAN DAN MENINDAS PERTUMB
PARTIKEL ENDAPAN.
FISIS : UJI LAPANGAN, EFEK JENIS PEMBENIHAN BUATAN PD AWAN, DAN
PENENTUAN HUB SEBAB AKIBAT ( DARI PENGINTIAN DI DLM AWAN
SAMPAI DG ENDAPAN DI PERMK TANAH ).
STATISTIK : MELAKUKAN PEMBENIHAN BUATAN DI BAWAH KONDISI
KHUSUS TTT ( MIS : SUHU PUNCAK AWAN DLM JANGKA WKT TTT,
ANGIN DR SUATU ARAH TTT ).
SECARA IDEAL, UJI COBA MODIFIKASI BUATAN SEBAIKNYA DIMULAI
DARI EVALUASI FISIS YG ADA. HASIL EVALUASI FISIS SEBAIKNYA
DIPAKAI SBG DASAR UTK MENENTUKAN PERIODE GILIRAN DLM UJI
COBA STATISTIK. SAYANGNYA, SGT SEDIKIT UJI COBA PEMBENIHAN
AWAN DILAKUKAN DG CARA INI, AKIBATNYA SBGN BSR HASIL UJI COBA
TANPA KESIMPULAN.
AWAN CUMULUS DPT DIGOLONGKAN SBG AWAN PANAS, JK SUHUNYA
DI ATAS 0º C, ATAU
DPT DIGOLONGKAN SBG AWAN DINGIN, JK AWAN INI TUMBUH JAUH
KE LAPISAN BEKU, SHG SUHU AWAN SEBGN ATAU SELRHNYA DI BWH 0º C.
PARAS 0º C DISBT PARAS BEKU ATAU PARAS PELEBURAN.
DLM AWAN PANAS, JK TETES AWAN MEMP UKURAN SERBA SAMA MK
KEC JATUH TERMINAL JG SAMA SHG KEMUNGKINAN BENTURAN DAN
TANGKAPAN SGT KCL, SHG JK TDK TERDPT PERTUMB UKURAN TETES.
SCR ALAMIAH AWAN INI SULIT ATAU TDK DPT MENGHASILKAN HUJAN.
MODIFIKASI AWAN DPT DILAKUKAN DG MENGINJEKSI TETES BESAR
KE DLM AWAN SHG MEKANISME BENTURAN-TANGKAP MENJD LBH AKTIF.
AKIBAT PROSES BENTURAN, TETES BERTAMBAH BSR DAN JATUH LBH
CEPAT YG BERARTI EFISIENSI PENGGABUNGAN BERTAMBAH BSR,
DG DMK AKAN MAKIN CEPAT TETES AWAN.
CUMULUS YG TUMBUH MENJULANG TINGGI JAUH
KE LAPISAN ATMOSFER DG SUHU DI BWH 0ºC,
DPT DIGOLONGKAN SBG AWAN DINGIN.
PD LAPISAN AWAN ANTARA 0ºC DAN - 40ºC TDK
TERJADI PENGINTIAN AIR SCR SPONTAN, KECUALI JK TETES
MENJUMPAI INTI PEMBEKU ATAU INTI ES.
AEROSOL BUATAN YG BANYAK DIPAKAI UTK MERANGSANG
HUJAN ADL PERAK IODIDA (AgI).
AKAN TETAPI DI INDO BANYAK RADIASI MATAHARI MK AgI TDK EFEKTIF
DIPAKAI SBG INTI PEMBEKU, KRN ITU SBG GANTINYA DPT DIPAKAI
ES KERING (CO² PADAT) YG DITABURKAN DR PUNCAK AWAN.
SUHU KESEIMBANGAN SUBLIMASI ES KERING ADL -78ºC, JAUH LBH
DINGIN DP SUHU PEMBEKUAN HOMOGEN AIR.
JIKA DIINJEKSI KEDLM AWAN KELEWAT DINGIN MAKA PELET
ES KERING AKAN TURUN DAN DLM LINTASANNYA ES KERING AKAN
MEMBEKUKAN TETES YG DILALUINYA.
PERCOBAAN HUJAN BUATAN DPT DILAKUKAN DG 2 CARA, YI
SECARA AKTIF DAN SECARA PASIF.
SECARA PASIF PERNAH DILAKUKAN DI DAERAH TANGKUBAN PERAHU,
YI DG MENYEMPROTKAN LAR UREA DARI MENARA DISPENSER.
MASUKNYA LAR INI KE DLM AWAN SGT TERGANTUNG PADA :
KONDISI CUACA TERUTAMA ARAH DAN KEC ANGIN, DAN
STABILITAS UDARA.
LIPUTAN AWAN RENDAN DAN KABUT MENYEBABKAN BAHAYA DI
LAPANGAN TERBANG.
KONSEP PELENYAPAN AWAN OLEH PEMBENIHAN HAMPI SAMA DG
PENINGKATAN HUJAN.
PARTIKEL BESAR ATAU INTI ES DIINJEKSIKAN UNTUK MENYAPU
TETES AWAN SHG DAERAH TSB MENJADI CERAH.
PERAK IODIDA & ES KERING TLH BERHASIL DIPAKAI UTK MENCERAHKAN
MENDUNG DAN KABUT KELEWAT DINGIN.
KABUT PANAS DI ATAS 0ºC LBH SULIT DIHILANGKAN.
ATMOSFIR BUMI
ATMOSFIR
Atmosfir adalah merupakan selimut gas yang tebal menyelubungi seluruh permukaan bumi.
Sifat-sifat atmosfir:
-Tidak terasa, tidak berbau dan tidak berwarna
-Dinamis dan elastis
-Transparan terhadap bentuk radiasi
-Mempunyai berat
Aerosol DI ATMOSFER
-Debu 20%
-Kristal 40%
-Abu 10%
-Asap 5%
-Lain-lain 25% (mikro organisme)
Manfaat atmosfir bagi kehidupan di bumi:
1.Merupakan sumber gas yang sangat fital
2.Pelindung dari panas dan dingin (buffer)
3.Pelindung dari radiasi berenergi tinggi ( sinar X, sinar ultra violet)
4.Pelindung dari hujan meteor
5.Pengangkut uap air melalui proses-proses yang dinamis dari peredaran udara serta menentukan timbulnya hujan.
6.Pengatur kelestarian mekanisme cuaca dan iklim
Oksigen penting untuk mengubah makanan menjadi energi & nitrogen terutama diperlukan bagi tanaman, namun walaupun meliputi 99% volume udara ternyata pasif thd proses cuaca.
Helium & Hidrogen sangat jarang, kecuali pada elevasi sangat tinggi, karena merupakan gas yang sangat ringan.
H2O (uap, cair, padat), CO2 (ERK) & O3 (menyerap UV) penting didalam pertukaran panas antara atmosfer, bumi, dan matahari.
CO2 masuk dalam atmosfer terutama karena kegiatan makhluk hidup di darat & di laut. Keseimbangan dinamis diatur oleh foto-sintesis yang menggunakan 3% jumlah CO2 per tahun.
Hampir separuh CO2 dari atmosfer diserap laut. Molekul CO2 diperkirakan akan kembali setiap 6 tahun, sementara molekul N2 menghabiskan waktu 10 juta th untuk kembali digunakan dalam proses biologis, sedangkan molekul O2 diperkirakan akan kembali setelah 4 juta th.
Terjadi peningkatan kandungan CO2 dalam atmosfer. Apa sebab dan akibatnya?
AIR DI ATMOSFER.
Uap air di troposfer sekitar 1-3%
Uap air mampu menyerap energi infra-red, sangat mempengaruhi neraca panas
Awan yg terbentuk dari uap air mampu memantulkan radiasi matahari dan mempunyai efek menurunkan suhu atmosfer.
Pada malam hari, uap air di atmosfer berfungsi sebagai “blanket”, menahan panas dari bumi dengan jalan menyerap radiasi infra-red.
Lapisan utama atmosfir terdiri dari:
1.Troposfir (16 Km)
2.Stratosfir(ozonosfir) (48 Km)
3.Mesosfir (80 Km)
4.Termosfir (ionosfir) (> 80 Km)
Termosfer
Ketinggian > 80 km, sangat jarang partikel gas yang mencapai lapisan ini. Puncak lapisan 100 km atau 250 km dari permukaan laut,
Lapisan berisi molekul N2, O2, N dan O.
Perubahan suhu terhadap ketinggian bersifat inversi suhu.
Suhu dari -95oC pada ketinggian 80 km hingga -50oC pada ketinggian 100km dan -38 oC pada ketinggian 110 km.
LApisan tempat berlangsungnya ionisasi gas N2 dan O2 sehingga disebut juga ionosfer. Diatas ketinggian 100 km, pengaruh radiasi uv dan sinar X makin kuat.
Atmosfir adalah merupakan selimut gas yang tebal menyelubungi seluruh permukaan bumi.
Sifat-sifat atmosfir:
-Tidak terasa, tidak berbau dan tidak berwarna
-Dinamis dan elastis
-Transparan terhadap bentuk radiasi
-Mempunyai berat
Aerosol DI ATMOSFER
-Debu 20%
-Kristal 40%
-Abu 10%
-Asap 5%
-Lain-lain 25% (mikro organisme)
Manfaat atmosfir bagi kehidupan di bumi:
1.Merupakan sumber gas yang sangat fital
2.Pelindung dari panas dan dingin (buffer)
3.Pelindung dari radiasi berenergi tinggi ( sinar X, sinar ultra violet)
4.Pelindung dari hujan meteor
5.Pengangkut uap air melalui proses-proses yang dinamis dari peredaran udara serta menentukan timbulnya hujan.
6.Pengatur kelestarian mekanisme cuaca dan iklim
Oksigen penting untuk mengubah makanan menjadi energi & nitrogen terutama diperlukan bagi tanaman, namun walaupun meliputi 99% volume udara ternyata pasif thd proses cuaca.
Helium & Hidrogen sangat jarang, kecuali pada elevasi sangat tinggi, karena merupakan gas yang sangat ringan.
H2O (uap, cair, padat), CO2 (ERK) & O3 (menyerap UV) penting didalam pertukaran panas antara atmosfer, bumi, dan matahari.
CO2 masuk dalam atmosfer terutama karena kegiatan makhluk hidup di darat & di laut. Keseimbangan dinamis diatur oleh foto-sintesis yang menggunakan 3% jumlah CO2 per tahun.
Hampir separuh CO2 dari atmosfer diserap laut. Molekul CO2 diperkirakan akan kembali setiap 6 tahun, sementara molekul N2 menghabiskan waktu 10 juta th untuk kembali digunakan dalam proses biologis, sedangkan molekul O2 diperkirakan akan kembali setelah 4 juta th.
Terjadi peningkatan kandungan CO2 dalam atmosfer. Apa sebab dan akibatnya?
AIR DI ATMOSFER.
Uap air di troposfer sekitar 1-3%
Uap air mampu menyerap energi infra-red, sangat mempengaruhi neraca panas
Awan yg terbentuk dari uap air mampu memantulkan radiasi matahari dan mempunyai efek menurunkan suhu atmosfer.
Pada malam hari, uap air di atmosfer berfungsi sebagai “blanket”, menahan panas dari bumi dengan jalan menyerap radiasi infra-red.
Lapisan utama atmosfir terdiri dari:
1.Troposfir (16 Km)
2.Stratosfir(ozonosfir) (48 Km)
3.Mesosfir (80 Km)
4.Termosfir (ionosfir) (> 80 Km)
Termosfer
Ketinggian > 80 km, sangat jarang partikel gas yang mencapai lapisan ini. Puncak lapisan 100 km atau 250 km dari permukaan laut,
Lapisan berisi molekul N2, O2, N dan O.
Perubahan suhu terhadap ketinggian bersifat inversi suhu.
Suhu dari -95oC pada ketinggian 80 km hingga -50oC pada ketinggian 100km dan -38 oC pada ketinggian 110 km.
LApisan tempat berlangsungnya ionisasi gas N2 dan O2 sehingga disebut juga ionosfer. Diatas ketinggian 100 km, pengaruh radiasi uv dan sinar X makin kuat.
Jumat, 24 Maret 2017
PENCARIAN AIR TANAH
PENCARIAN AIR TANAH
Metode Penginderaan jauh: dengan menggunakan foto udara konvensional (berdasarkan atas pola vegetasi dan lokasi)
penyebaran airtanah dapat diperkirakan kasinya.
Ciri-ciri permukaan yang dikenal dari foto udara yang dapat membantu dalam penilaian keadaan airtanah, diantaranya:
1. Topografi, yang meliputi;
- perkiraan kedudukan relief regional
- perkiraan kedudukan relief lokal
2. Freatofit dan tumbuhan air
3. Formasi geologi kemungkinan mengandung akifer atu bentuklahan
- teras aluvium dan dataran banjir
- lembah dan lembah tertimbun/tertinggal
- lembah antar gunung
- kompleks marine
- kipas aluvial
- delta
- Beach redge/ sand dune
4. Danau dan sungai
- kepadatan aliran
- hilangnya aliran sungai
- Danau
- Sungai besar yang mempunyai dataran banjir aktif
- Aliran glasier
5. Cekungan dan rembesan
6. Mata air ( mata iar kontak, depresi, solutional)
7. Kenampakan air buatan
- sumur
- bendungan
- saluran
8. Gunungapi
- lereng gunungapi
- Kaki gungapi
- Dataran flufio gunung api
- Dataran gunungapi
- Lembah antar gunung
9. Batuan gamping
- dolin dan ovala
- sungai bawah tanah
10. kenampakan air buatan
- sumur
- bendungan
- kanal, saluran
Sabtu, 07 Maret 2015
KELEMBABAN UDARA, AWAN, PRESIPITASI
Kelembaban Udara
kelembaban udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara; hanya 2% dari jumlah massa atmosfer.
Kelembaban mutlak (absolut humidity): berat uap air yg tertampung dalam volume udara (g/m3);
Kelembaban nisbi (relative humidity -- RH): % perbandingan kelembaban mutlak thd kapasitas maksimumnya pd suhu sama; Kelembaban 100% = udara jenuh dgn uap air.
Makin tinggi temperatur, kapasitas udara makin besar, kelembaban relatif berkurang.
Hub. Kelmbaban dan Suhu
Kelembaban udara merupakan indikator kapasitas potensial atmosfer untuk terjadi presipitasi.
Uap air bersifat menyerap radiasi bumi, shg menentukan kecepatan kehilangan panas Þ mengatur temperatur.
Makin besar kelembaban, makin besar jml energi potensial laten tersedia di atmosfer Þ sumber hujan angin (storm).
Suhu yang turun terus menerus, udara jenuh dgn uap air;
Awan
Mula-mula udara naik mengandung uap air suhunya tinggi, kmd suhu turun mencapai titik embun, & turun terus sampai melampaui titik embun, shg tjd kondensasi, terbentuk kumpulan titik2 air / kristal es yg melayang di atmosfer : AWAN
Jika titik kondensasi dicapai & udara masih terus naik, awan makin banyak.
Bila angin yg kuat menjumpai gunung, maka udara akan dipaksa naik, shg suhunya turun, & apabila cukup mengandung uap air akan terbentuk awan.
Massa udara panas bertemu dgn massa udara dingin, udara panas meluncur di atas udara dingin ( tjd FRONT) & suhu udara panas turun è awan berlapis mendatar.
Klasifikasi awan
Stratiform : tumbuh lambat, arus vertikal menyebar luas , berlapis
Cumuliform : bergumpal,arus vertikal kuat, terjadi pada area kecil.
Cirruform: seperti bulu, arus vertikal
Hasil kongres di Swedia tahun 1894 mengenai pengelompokan jenis-jenis awan:
Gb. Macam-macam awan
A. AWAN TINGGI (> 6000 m)
Ci – Cirrus : tipis spt bulu ayam, kristal es, tdk tjd hujan
Cs - Cirrostratus : putih rata menutup langit, tjd hallo
Cc - Cirrocumulus: spt kelompok biri-biri, kristal es, ada bayangan
B. AWAN SEDANG (2000-6000 m)
As - Altostratus : kelabu, berlapis-lapis luas & tebal
Ac - Altocumulus: spt bola kecil2 bergerombol, putih pucat kelabu
C. AWAN RENDAH (0-2000 m)
Sc - Stratocumulus: spt gelombang laut, menutup tipis, tdk tjd hujan
St – Stratus : rata berlapis, luas, rendah, spt kabut
D. AWAN DENGAN PERKEMBANGAN VERTIKAL
Ns – Nimbostratus: putih, luas, tak beraturan, tjd gerimis
Cu - Cumulus: bergumpal, puncak tinggi, dasar rata
Cb - Cumulonimbus: rendah, puncak tinggi lebar, tjd hujan, kilat
Awan dekat permukaan tanah :
KABUT / Halimun è KABUT SAWAH, KABUT ADVEKSI, KABUT INDUSTRI, KABUT PENDINGIN.
Kabut(Fog) adalah titik-titik air yang melayanglayang diatmosfir dekat permukaan bumi. Jika jatuh disebut Embun
Presipitasi / Pencurahan
Air yang berasal dari awan jatuh ke permukaan tanah dalam bentuk cair (hujan) atau padat (salju)
Kondensasi yang menghasilkan curahan tidak terjadi murni dari penjenuhan uap air, tetapi karena adanya INTI KONDENSASI yang menarik butiran air berupa partikel berukuran 0.1-1 mikron (partikel garam laut, debu halus dari letusan gunung/industri).
Tipe Presipitasi:
a. Hujan (rain), adalah presipitasi berbentuk cair. Tetesan air yang jatuh diameter bervariasi dari o,5 - 4,0 mm.
b. Salju (snow), salju terjadi karena karena sublimasi uap airpada temperatur di bawah titik beku. Ini dapat terjadi jika dari tempat terjadinya awan sampai dengan permukaan tanah temperaturnya lebih kecil dari nol derajat Celsius.
c. Hujan batu es (hail stone), yang terdiri dari bongkah-bongkah es, dengan diameter antara 5-50 mm.
d. Glaze, adalah merupakan es yang terbentuk dari hujan yang membeku akibat kontak dengan obyek dingin.
e. Sleet, adalah jika butir-butir hujan sewaktu jatuh mengalami pembekuan akibat uadara dingin.
f. Drizzle, adalah presipitasi yang terdiri dari butir-butir air yang berdiameter kurang dari 0,02 mili meter dan intensitasnya kurang dari 0,4 mm per jam.
Presipitasi horisontal, yakni presipitasi yang sulit diukur dengan suatu alat.
a. kabut , menurut definisi, adalah suatu awan yang dekat sekali dengan permukaan tanah.
b. Embun
C. Embun beku
Es (salju yang dipadatkan), biasanya dalam bentik butiran –butiran es sering juga
disebut dengan hail.
. Klasifikasi Presipitasi Menurut Proses Terjadinya
1. Presipitasi konveksi.
Yaitu merupakan presipitasi yang disebabkan oleh naiknya udara oleh proses pemanasan
2. Presipitasi Orografis.
yakni presipitasi yang diakibatkan oleh gerakan udara naik ke pegunungan
3. Presipitasi Frontal.
Jenis ini banyak terjadi pada daerah lintang tengah, sifat dari jenis ini adalah: tidak begitu lebat , tetapi penyebaran luas.
4. Presipitasi Siklonik.
Jenis presipitasi ini terjadi karena naiknya udara dan dipusatkan ke arah tekanan rendah.
Global precipitation pattern
Distribusi curah hujan
Distribusi curah hujan adalah untuk menentukan suatu
rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian
banjir à yaitu curah hujan rata-rata pada seluruh daerah
yg bersangkutan.
\ bukan merupakan curah hujan pada suatu daerah
tertentu.
Curah hujan ini disebut curah hujan daerah/wilayah yg
biasanya dinyatakan dalam mm.
Cara penentuan curah hujan daerah/wilayah yg
bersangkutan, diperhitungkan dgn beberapa titik
pengamatan curah hujan sbb :
Intensitas & Unsur CH
sangat ringan < 1 mm/jam : < 5 mm/24 j
ringan = 1 - 5 mm/jam : 5 - 20 mm/24 j
normal = 5 - 10 mm/jam : 20 - 50 mm/24 j
lebat = 10 - 20 mm/jam : 50 -100 mm/24 j
sangat lebat > 20 mm/jam : > 100 mm/24 j
Unsur hujan : ion Na, K, Ca, Cl, bikarbonat, sulfat, bentuk2 nitrogen, dll. pH : 3.0 - 9.8. bervariasi thd waktu & tempat.
kelembaban udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara; hanya 2% dari jumlah massa atmosfer.
Kelembaban mutlak (absolut humidity): berat uap air yg tertampung dalam volume udara (g/m3);
Kelembaban nisbi (relative humidity -- RH): % perbandingan kelembaban mutlak thd kapasitas maksimumnya pd suhu sama; Kelembaban 100% = udara jenuh dgn uap air.
Makin tinggi temperatur, kapasitas udara makin besar, kelembaban relatif berkurang.
Hub. Kelmbaban dan Suhu
Kelembaban udara merupakan indikator kapasitas potensial atmosfer untuk terjadi presipitasi.
Uap air bersifat menyerap radiasi bumi, shg menentukan kecepatan kehilangan panas Þ mengatur temperatur.
Makin besar kelembaban, makin besar jml energi potensial laten tersedia di atmosfer Þ sumber hujan angin (storm).
Suhu yang turun terus menerus, udara jenuh dgn uap air;
Awan
Mula-mula udara naik mengandung uap air suhunya tinggi, kmd suhu turun mencapai titik embun, & turun terus sampai melampaui titik embun, shg tjd kondensasi, terbentuk kumpulan titik2 air / kristal es yg melayang di atmosfer : AWAN
Jika titik kondensasi dicapai & udara masih terus naik, awan makin banyak.
Bila angin yg kuat menjumpai gunung, maka udara akan dipaksa naik, shg suhunya turun, & apabila cukup mengandung uap air akan terbentuk awan.
Massa udara panas bertemu dgn massa udara dingin, udara panas meluncur di atas udara dingin ( tjd FRONT) & suhu udara panas turun è awan berlapis mendatar.
Klasifikasi awan
Stratiform : tumbuh lambat, arus vertikal menyebar luas , berlapis
Cumuliform : bergumpal,arus vertikal kuat, terjadi pada area kecil.
Cirruform: seperti bulu, arus vertikal
Hasil kongres di Swedia tahun 1894 mengenai pengelompokan jenis-jenis awan:
Gb. Macam-macam awan
A. AWAN TINGGI (> 6000 m)
Ci – Cirrus : tipis spt bulu ayam, kristal es, tdk tjd hujan
Cs - Cirrostratus : putih rata menutup langit, tjd hallo
Cc - Cirrocumulus: spt kelompok biri-biri, kristal es, ada bayangan
B. AWAN SEDANG (2000-6000 m)
As - Altostratus : kelabu, berlapis-lapis luas & tebal
Ac - Altocumulus: spt bola kecil2 bergerombol, putih pucat kelabu
C. AWAN RENDAH (0-2000 m)
Sc - Stratocumulus: spt gelombang laut, menutup tipis, tdk tjd hujan
St – Stratus : rata berlapis, luas, rendah, spt kabut
D. AWAN DENGAN PERKEMBANGAN VERTIKAL
Ns – Nimbostratus: putih, luas, tak beraturan, tjd gerimis
Cu - Cumulus: bergumpal, puncak tinggi, dasar rata
Cb - Cumulonimbus: rendah, puncak tinggi lebar, tjd hujan, kilat
Awan dekat permukaan tanah :
KABUT / Halimun è KABUT SAWAH, KABUT ADVEKSI, KABUT INDUSTRI, KABUT PENDINGIN.
Kabut(Fog) adalah titik-titik air yang melayanglayang diatmosfir dekat permukaan bumi. Jika jatuh disebut Embun
Presipitasi / Pencurahan
Air yang berasal dari awan jatuh ke permukaan tanah dalam bentuk cair (hujan) atau padat (salju)
Kondensasi yang menghasilkan curahan tidak terjadi murni dari penjenuhan uap air, tetapi karena adanya INTI KONDENSASI yang menarik butiran air berupa partikel berukuran 0.1-1 mikron (partikel garam laut, debu halus dari letusan gunung/industri).
Tipe Presipitasi:
a. Hujan (rain), adalah presipitasi berbentuk cair. Tetesan air yang jatuh diameter bervariasi dari o,5 - 4,0 mm.
b. Salju (snow), salju terjadi karena karena sublimasi uap airpada temperatur di bawah titik beku. Ini dapat terjadi jika dari tempat terjadinya awan sampai dengan permukaan tanah temperaturnya lebih kecil dari nol derajat Celsius.
c. Hujan batu es (hail stone), yang terdiri dari bongkah-bongkah es, dengan diameter antara 5-50 mm.
d. Glaze, adalah merupakan es yang terbentuk dari hujan yang membeku akibat kontak dengan obyek dingin.
e. Sleet, adalah jika butir-butir hujan sewaktu jatuh mengalami pembekuan akibat uadara dingin.
f. Drizzle, adalah presipitasi yang terdiri dari butir-butir air yang berdiameter kurang dari 0,02 mili meter dan intensitasnya kurang dari 0,4 mm per jam.
Presipitasi horisontal, yakni presipitasi yang sulit diukur dengan suatu alat.
a. kabut , menurut definisi, adalah suatu awan yang dekat sekali dengan permukaan tanah.
b. Embun
C. Embun beku
Es (salju yang dipadatkan), biasanya dalam bentik butiran –butiran es sering juga
disebut dengan hail.
. Klasifikasi Presipitasi Menurut Proses Terjadinya
1. Presipitasi konveksi.
Yaitu merupakan presipitasi yang disebabkan oleh naiknya udara oleh proses pemanasan
2. Presipitasi Orografis.
yakni presipitasi yang diakibatkan oleh gerakan udara naik ke pegunungan
3. Presipitasi Frontal.
Jenis ini banyak terjadi pada daerah lintang tengah, sifat dari jenis ini adalah: tidak begitu lebat , tetapi penyebaran luas.
4. Presipitasi Siklonik.
Jenis presipitasi ini terjadi karena naiknya udara dan dipusatkan ke arah tekanan rendah.
Global precipitation pattern
Distribusi curah hujan
Distribusi curah hujan adalah untuk menentukan suatu
rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian
banjir à yaitu curah hujan rata-rata pada seluruh daerah
yg bersangkutan.
\ bukan merupakan curah hujan pada suatu daerah
tertentu.
Curah hujan ini disebut curah hujan daerah/wilayah yg
biasanya dinyatakan dalam mm.
Cara penentuan curah hujan daerah/wilayah yg
bersangkutan, diperhitungkan dgn beberapa titik
pengamatan curah hujan sbb :
Intensitas & Unsur CH
sangat ringan < 1 mm/jam : < 5 mm/24 j
ringan = 1 - 5 mm/jam : 5 - 20 mm/24 j
normal = 5 - 10 mm/jam : 20 - 50 mm/24 j
lebat = 10 - 20 mm/jam : 50 -100 mm/24 j
sangat lebat > 20 mm/jam : > 100 mm/24 j
Unsur hujan : ion Na, K, Ca, Cl, bikarbonat, sulfat, bentuk2 nitrogen, dll. pH : 3.0 - 9.8. bervariasi thd waktu & tempat.
HUJAN BUATAN
Hujan
buatan
adalah
usaha
manusia
untuk
meningkatkan curah hujan yang turun secara alami dengan mengubah proses fisika yang terjadi di dalam awan. Proses fisika yang dapat diubah meliputi proses tumbukan dan penggabungan (collision dan coalescense), proses pembentukan es (ice
nucleation)
Jadi
jelas
bahwa
hujan
buatan
sebenarnya
tidak
menciptakan
sesuatu
dari
yang tidak
ada.
Untuk
menerapkan
usaha
hujan
buatan
diperlukan
tersedianya
awan
yang mempunyai kandungan air yang cukup, sehingga dapat terjadi hujan yang sampai ke tanah
Syarat
terjadinya
hujan
buatan
adalah
sebagai
berikut:
1. kelembaban relatif
70%
2. kecepatan angin < 10 knots
3. tidak ada lapisan inversi
4. dekat dengan lapangan terbang/ jarak penerbangan tidak
terlalu
jauh.
Perlengkapan yang dibutuhkan dalam membuat hujan buatan
1. Na
Cl , sebagai inti kondensasi
2. Ca Cl2,
3. urea
4. Es kering
5. Aerosol, untuk
mencegah
penggumpalan
6. Pompa air
7. Pesawat penabur
Langganan:
Postingan (Atom)